Tampilkan postingan dengan label Sajian Utama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sajian Utama. Tampilkan semua postingan

Jumat, 01 Maret 2013

CINTA



Cinta dalam bahasa Arab disebut Al-Mahabbah yang berarti kasih sayang. Menurut Abdullah Nashih Ulwan cinta adalah perasaan jiwa dan gejolak hati yang mendorong seseorang mencintai kekasihnya dengan penuh gairah, lembut dan kasih sayang. Cinta adalah fitrah manusia yang murni, yang tak dapat terpisahkan dari kehidupannya.
Diantara tanda-tanda cinta ialah rasa kagum/simpatik, berharap, takut, rela dan selalu ingat kepada yang dicintai. Seorang yang beriman sejak memproklammirkan bahwa tiada ilah selain Allah dan beriltizam (komitmen) sepenuh dayanya, maka Allah harus menempati posisi tertinggi cintanya. Semua tanda-tanda cinta tersebut selayaknya diberikan kepada Allah. Berupa rasa kagum terhadap kebesaran, keagungan dan kekuasaan Allah, mengharapkan cinta Allah, rahmat, keridhaan dan keampunanNya (QS.39:53),rela dan menerima ketentuan Allah sepenuhnya, takut kepada Allh, yang mrnghasilkan sikap menjauhkan diri dari maksiat, serta selalu mengingat Allah (QS.2:152; 13:28; 63:9; 59:19).
Firman Allah : "Dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah, mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yanag beriman amat sangat cintanya kepada Allah..." (QS.2:165)
Cinta muncul karena kesadaran telah menerima anugerah dan nikmat yang besar dari Allah, pemahaman betapa rasa kasih sayang Allah melingkupi detik-detik kehidupan kita, serta karena mengenal Allah (Ma'rifatullah). Sehingga seorang mukmin amat sangat cintanya kepada Allah dan memiliki hasrat yang besar untuk bertemu denganNya.

Jumat, 18 Januari 2013

Waktuku, Waktumu, Waktu Kita


Faqih Annisa 
( Ketua FLP Ranting IAIN Ska )
 

Tidak ada yang lebih berharga dalam kehidupan ini setelah iman selain “waktu”. Waktu adalah benda yang paling berharga dalam kehidupan seorang muslim. Ia tidak dapat ditukar oleh apapun. Waktu dalam islam adalah “kehidupan”, al-waqtu huwa al-hayah, demikian kata As-Syahid Hasan Al-Banna. Demikian pula uswah kita Rasulullah SAW adalah seorang yang sangat disiplin mengelola waktu. Keseharian beliau yang sangat “padat acara” lantas tidak membuat semuanya menjadi terbengkalai. Sebaliknya, semua berjalan baik. Itulah keunggulan Rasulullah SAW mengelola waktu dalam memegang kendali pemerintahan, pendakwah, kepala rumah tangga, suami dari istrinya, bapak bagi anak-anaknya, panglima perang, pengusaha, guru, imam masjid, tempat mengadu dan mengeluhkan permasalahan dan sebagainya.
Disaat pergantian tahun baru islam maupun tahun baru masehi ini hendaknya menjadikan setiap umat muslim di seluruh dunia lebih menyadari untuk berhijrah menuju perbaikan yang lebih baik lagi dengan memanage waktu agar tidak terbuang sia-sia dan berlalu begitu saja tanpa makna. Sebuah pepatah mengatakan “Apa yang terpanjang tetapi juga terpendek, yang tercepat tetapi juga yang terlambat itu kita semua tidak mengindahkannya, tetapi kemudian menyesalinya adalah tidak ada yang dapat dilakukan, dia menelan segala yang kecil dan membangun segala yang besar”. Dialah sang waktu. Dialah ukuran keabadian. Dialah yang terpendek karena tidak seorangpun yang mempunyai cukup waktu untuk menyelesaikan pekerjaan hidupnya. Dia terlalu cepat pergi bagi orang-orang yang berbahagia dan begitu lambat bagi orang yang tidak bermanfaat, mengekalkan yang agung dan berguna bagi manusia.

Jumat, 02 November 2012

“SEMANGAT BERQORBAN” Menghidupkan Kembali Panggilan Allah dan Rasul-Nya

Oleh : Warist Luqman Hakimah, S. Ag
Sejarah qurban adalah sejak dijaman Nabi Adam as. Yaitu pada kedua putra Beliau : Qobil dan Habil.
Selanjutnya adalah apa yang terjadi di jaman Nabi Ibrahim as. Yaitu pada saat diperintah oleh Allah SWT melalui mimpinya untuk menyembelih Putranya yang bernama Ismail sebagai ujian kecintaannya kepada Allah SWT.
Kala itu Ibrahim yang baru saja dikaruniai putra yang telah sekian lama dinanti-nantikan kehadirannya, oleh Allah swt diperintahkan untuk menyembelihnya. Sebuah ujian yang sangat berat bagi Ibrahim mengingat Ismail adalah anak yang ia dambakan dan ia cintai. Akan tetapi, rasa cinta Beliau kepada sang putra tidak meleburkan dan meluluhkan rasa cinta dan patuhnya keapad Allah swt, dan ketika Ibrahim memberitahu Ismail agar menyembelihnya, dengan suka rela Ismail bersedia menuaikan perintah Allah swt tersebut.
Karena kepatuhan dan kerelaan Ibrahim dan Ismail dalam menjalankan perintah Allah swt, maka akhirnya Allah Ismail dengan seekor kambing kibas yang besar. Kerelaan dan kepatuhan telah mengantarkan Ibrahim dan Ismail lulus menghadapi ujian dari Allah swt.
Dijaman Nabi Muhammad saw, qurban tidak lagi anak atau dirinya, tetapi diperintahkan berupa penyembelihan binatang ternak ( onta, sapi dan Kambing ) sampai sekarang, sebagaimana Firman Allah swt dalam Surat Al Hajj ayat : 34.